Desa Jaranguda adalah salah satu desa yang terletak di dataran tinggi Karo dengan ketinggian ±1.453 mdpl, beriklim sejuk dengan suhu 16–22°C. Desa ini dikenal sebagai desa pertanian dan juga memiliki potensi besar di bidang pariwisata karena lokasinya yang dekat dengan Gunung Sibayak dan kawasan wisata Gundaling Berastagi.
Website ini hadir sebagai sarana informasi, komunikasi, dan pelayanan publik berbasis digital. Melalui situs ini, masyarakat dapat mengakses informasi resmi terkait pemerintahan desa, profil desa, potensi, berita, hingga pelayanan administrasi.
Berawal dari seorang pemuda yang pekerjaan sehari-harinya adalah berburu ke hutan. Pada suatu saat pemuda ini memperoleh hasil buruan yang sangat banyak (simpar, bahasa Karo) sehingga tidak sanggup untuk dibawa pulang hasil buruan tersebut. Maka dari itu pemburu tersebut berinisiatif untuk mendirikan sapo-sapo (gubuk) untuk tujuan pengasapan (para-para; bahasa Karo) daging hasil buruan yang tidak bisa dibawa pulang agar tidak busuk dan membawa sebagian hasil buruannya ke kampungnya. Setelah habis dia mengambil kembali daging yang sudah diasap (i-paraken), kemudian pemuda ini kembali berburu dan memperoleh hasil yang sangat banyak.
Melihat setiap hasil buruannya sangat banyak, saudara-saudara pun tertarik untuk ikut berburu ke lokasi tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, pemburu bersama saudaranya sudah merasa nyaman untuk tinggal di lokasi tersebut dan jumlah keluarga yang tinggal menetap semakin banyak, maka kelompok ini berinisiatif dan bermusyawarah untuk membuat nama yang cocok untuk daerah/lokasi yang mereka tempati tersebut. Mengingat bahwa pemuda yang dimaksud di atas secara kebetulan adalah Anak Singuda (anak bungsu) mempunyai marga Surbakti dan merupakan hal yang jarang terjadi (luar biasa) karena sesuai dengan kebiasaan khususnya masyarakat Karo bahwa anak singuda itu jarang mendirikan rumah baru untuk bermukim. Maka dari itulah dikesankan: "jarang anak singuda mantekki kuta" (jarang anak bungsu mendirikan suatu desa), dan disingkat dengan nama JARANGUDA.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka rombongan ini sepakat menamai lokasi tersebut JARANGUDA. Sekarang Desa Jaranguda sudah berkembang dan penduduknya sangat padat serta simanteki kuta (yang mendirikan) adalah Surbakti Mergana (marga Surbakti). Sebelum G30S/PKI atau Gestok (Gerakan Satu Oktober) tahun 1965, Jaranguda merupakan suatu Dusun di bawah Pemerintahan Desa Keling (sekarang Desa Merdeka) yang kepala desanya adalah Bapak Kontan Surbakti (Pangolak Surbakti) dan sebagai perpanjangan tangan Pemerintahan Desa Keling (sekarang Desa Merdeka) di Jaranguda adalah Raja Ngaku Surbakti dengan jabatan sebagai kepala dusun.
Setelah kejadian tersebut di atas, dengan berjalannya waktu terbentuklah Pemerintahan di Desa Jaranguda dan yang menjabat sebagai Kepala Desa adalah Simpan Tarigan Simpan Tarigan (Bapak Tujuan Tarigan).
Pada akhir tahun 2006 terjadi pemekaran Kecamatan Simpang IV menjadi 3 Kecamatan yaitu: Kecamatan Simpang IV, Kecamatan Namanteran, dan Kecamatan Merdeka. Desa Jaranguda masuk ke Kecamatan Merdeka. Mulai terbentuknya Pemerintahan di Desa Jaranguda, yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa adalah:
Visi: "Terwujudnya masyarakat Desa Jaranguda yang mandiri, berdaya saing, sejahtera, dan berbudaya melalui pembangunan partisipatif dan pelayanan prima."
Misi:
Luas Wilayah: 550 km²
Ketinggian: 1.453 mdpl
Suhu Rata-rata: 16°C – 22°C
Batas-batas:
Sejarah kepemimpinan Desa Jaranguda, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo dimulai dari Simpan Tarigan yang menjabat pada tahun 1965–1982. Setelah itu, desa dipimpin oleh M. Juda Ginting pada periode 1982–2003, kemudian dilanjutkan oleh Ir. Benyamin Surbakti pada tahun 2003–2008. Sejak tahun 2008 hingga sekarang, Desa Jaranguda dipimpin oleh Elisa Sinuraya, S.H.



Kepala Desa dan Perangkat Desa
Lembaga Desa: BPD, LPMD, PKK, Karang Taruna, Linmas
Data Keluarga Miskin: 52 KK
Struktur Organisasi Pemerintahan Desa